18/08/2015
NOMOPHOBIA: Tak Bisa Jauh dari Ponsel
Teknologi apa yang paling dekat dengan kita? Ponsel
tentu saja. Ke mana saja, ponsel selalu menyertai kita.
Bisa dikatakan bahwa dewasa ini, hampir semua orang
telah memiliki semacam ketergantungan dengan
teknologi, terutama ponsel pintar.
Perhatikan sekitar Anda, di mana pun, terutama di
tempat umum, Anda akan menemukan banyak orang
yang sedang menunduk, kusyuk dengan ponsel/
gadgetnya masing-masing. Iya, bukan hal yang aneh,
mengingat tren media sosial kini lebih diminati dari
interaksi sosial langsung.
Kembali ke nomophobia, yang tanpa disadari, mungkin
pernah atau sering kita alami. Meski sedang bersama
keluarga atau orang-orang yang kita kasihi, ada saat di
mana kita akan merasakan kehilangan bila tak
menengok ponsel kita, walau sejenak saja. Apalagi bila
ponsel kita ternyata tertinggal di suatu tempat yang tak
mudah dijangkau, maka rasa kehilangan tersebut akan
semakin mendalam.
Parahnya lagi, vendor-vendor pembesut ponsel kini
berlomba meracik dan merilis ponsel pintar dengan
harga yang terjangkau sejuta umat, sehingga semakin
banyak orang yang memiliki ponsel pintar, berbanding
lurus dengan meningkatnya pengidap nomophobia.
Pada tahun 2008 (tahun di mana gejala-gejala
nomophobia mulai diteliti), YouGov plc melakukan
survei terhadap 2163 orang dewasa di Inggris. Hasilnya,
sebanyak 53% pengguna ponsel mengakui bahwa
mereka mengalami kecemasan saat kehabisan pulsa dan
kehilangan sinyal.
Pada tahun 2012, dari hasil survey yang dilakuan oleh
sebuah perusahaan IT asal Inggris, SecurEnvoy,
diketahui bahwa sebanyak 66% pengguna ponsel
memiliki rasa takut kehilangan atau terpisah dari ponsel
mereka (meningkat dari penelitian tahun 2008).
Diketahui p**a bahwa rata-rata pengguna ponsel saat
itu mengecek ponselnya sebanyak 34 kali dalam sehari.
Selain itu, terungkap bahwa sekitar 41% pengguna
ponsel memiliki ponsel lebih dari satu.
Masih di tahun 2012, sebanyak 40% responden Amerika
Serikat yang disurvei oleh Chicago Tribune lebih
memilih tidak menggosok gigi selama seminggu
daripada terpisah dari ponselnya.
Selanjutnya, berdasarkan survei yang dilakukan oleh
11Mark, menyatakan bahwa 75 persen responden
menggunakan ponselnya di kamar mandi.
Menurut survei yang dilakukan oleh Cisco di Australia, 9
dari 10 orang berusia dibawah 30 tahun mengakui
mengalami nomophobia. Survei tersebut dilakukan pada
3800 pemakai ponsel pintar.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sampai sekarang
belum ada data yang pasti. Namun, di Asia sendiri,
nomophobia bisa dikatakan telah menjadi ancaman
nyata. Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan di
India, 45% dari responden mengalami nomophobia.
TANDA-TANDA
Nah, apakah Anda mulai merasa menjadi nomophobic
(orang yang mengalami nomophobia)? Berikut ini tanda-
tandanya.
Terobsesi dengan ponsel Anda, selalu mengeceknya
tiap ada kesempatan, khawatir bila ada panggilan
masuk atau pesan yang terlewatkan.
Merasa gelisah bila baterai mulai habis, tak pernah
lupa membawa powerbank, selalu menjaga dan
memastikan baterai ponsel dalam keadaan penuh.
Membawa dan menggunakan ponsel ke mana saja,
termasuk ke kamar mandi, kamar tidur, di atas
motor, di dalam mobil.
Memiliki lebih dari satu ponsel, sebagai cadangan
bila salah satunya hilang atau tak berfungsi.
Sebenarnya tak masalah memiliki banyak ponsel,
namun bila itu adalah alasan untuk menghilangkan
kegelisahan dan ketakutan akan kehilangan ponsel,
bisa jadi Anda memang seorang nomophobic.
Panik ketika tak bisa menemukan ponsel, lupa di
mana menaruhnya.
Timbul kecemasan berlebihan bila ponsel tidak
berfungsi atau kehilangan sinyal, atau pulsa mulai
menipis.
Lebih peduli terhadap isu-isu yang berkembang di
media sosial daripada yang terjadi di sekitarnya.
Jarang bersosialisasi secara langsung karena lebih
nyaman bersosialisasi lewat media sosial yang bisa
diakses setiap saat dengan ponsel.
CARA MENGATASI
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi
atau menghindari nomophobia. Cara terbaik adalah
dengan memulai menyadarkan diri tentang dampak
negatif dari nomophobia. Seperti menyadari bahwa
banyak waktu yang terbuang karena ponsel. Menyadari
bahwa makin berkurangnya interaksi langsung kita
dengan keluarga, orang terkasih, dan juga teman-teman
kita.
Di samping itu, cobalah untuk meminimalisir
penggunaan ponsel pada saat pertemuan dengan
keluarga atau teman-teman kita, agar tercipta suasana
yang lebih hangat dan berkualitas.
Tak kalah penting, meyakinkan diri sendiri, bila kita
mampu menjalani kehidupan tanpa harus terlalu
bergantung pada ponsel, karena ponsel adalah buatan
manusia, dan kita tidak bergantung pada manusia,
apalagi barang buatan manusia.
Terakhir, mendekatkan diri pada Sang Pencipta juga
sangat ampuh untuk menghilangkan segala kecemasan
dan ketakutan, termasuk nomophobia