NGAJI Daring

NGAJI Daring Solusi untuk benar dalam membaca Al-Qur'an. Belajar Mengaji itu tak musti menunggu di hari tua. Wallahu a'lam

Justru di saat anda masih muda, kuat dan punya waktu lapang dan luang seperti inilah hendaknya mulai diniatkan untuk konsisten/Istiqomah menuntut/belajar ilmu agama khususnya mengaji Al-Qur'an.Tak perlu malu & segan. Ayo..mulailah saat ini juga, jangan tunggu hari esok.Karena kita tidak tahu apakah besok Allah masih memberi kesempatan apa tidak kepada kita.Tak ada yg bisa menjaminnya kecuali Allah SWT.

08/06/2026

08/06/2026

*”Menakar Kesalehan Domestik: Meneladani Seni Memaafkan Rasulullah ﷺ di Dalam Rumah”*
*===========================*


Sangat mudah bagi seseorang untuk tampil mempesona, bijaksana, dan penuh kesabaran di luar rumah. Di hadapan rekan kerja, mahasiswa, atau masyarakat umum, kita bisa dengan mudah memakai _*"topeng"*_ kepribadian terbaik kita. Namun, tahukah kita semua di mana ujian ketulusan karakter yang sesungguhnya? Jawabannya adalah di dalam rumah kita sendiri, di balik pintu yang tertutup, di hadapan anggota keluarga yang melihat kita tanpa sekat apa pun.

Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang yang dihormati di luar rumah, namun menjadi sosok yang kasar, mudah membentak, dan pendendam saat berada di tengah-tengah anak dan istrinya. Ego yang meninggi sering kali membuat urusan rumah tangga yang sepele berubah menjadi arena pertengkaran yang menegangkan dan melelahkan.

Lantas, bagaimana potret manusia terbaik sepanjang sejarah saat berada di dalam rumahnya? Mari kita berguru kepada petunjuk nubuwat.
Kesaksian dari Dalam Kamar Nabi saw

Untuk mengetahui karakter asli seseorang, maka bertanyalah kepada pasangannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, seorang tabiin bernama Abu Abdullah Al-Jadali pernah bertanya langsung kepada ibunda kaum mukminin, Aisyah radhiyallahu 'anha: _*"Bagaimanakah akhlak Rasulullah ﷺ ketika berada di tengah-tengah keluarganya?"*_

Mendengar pertanyaan itu, Bunda Aisyah—sosok yang paling tahu keseharian Nabi saw—memberikan jawaban yang sangat indah:

*كَانَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا؛ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا، وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَلَا صَخَّابًا بِالْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ*

_*"Beliau adalah manusia yang paling mulia akhlaknya; beliau tidak pernah berbuat keji, tidak p**a sengaja berkata kotor, tidak s**a berteriak-teriak di pasar, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Akan tetapi, beliau selalu memaafkan dan berlapang dada."*_

Kesaksian tulus ini menjadi tamparan sekaligus cermin besar bagi kita. Rasulullah ﷺ, sang pemimpin tertinggi jazirah Arab yang memikul beban dakwah yang mahaberat, ternyata tidak pernah membawa p**ang stres, emosi, atau ketegangan luar rumah ke dalam ruang domestiknya.

*Rahasia di Balik Kata "Memaafkan" dan "Berlapang Dada"*

Jika kita selami lebih dalam, Bunda Aisyah menggunakan dua kata yang serupa tapi tak sama untuk menggambarkan sifat Nabi: _ya'fu_ (memaafkan) dan _yashfahu_ (berlapang dada).

Para ulama menjelaskan bahwa memaafkan _*(al-'afwu)*_ adalah tindakan menahan diri untuk tidak membalas dendam ketika kita disakiti atau dirugikan. Ini adalah tingkatan yang mulia. Namun, berlapang dada _*(as-shafhu)*_ berada di tingkatan yang jauh lebih tinggi. Orang yang _*yashfahu*_ tidak hanya menolak untuk membalas, melainkan ia akan menghapus total bekas luka di hatinya, lalu tersenyum simpul dan menganggap kesalahan orang tersebut seolah tidak pernah terjadi sama sekali.

Di dalam rumah tangga, dua sifat inilah yang menjadi kunci keharmonisan. Saat pasangan atau anak-anak melakukan kekhilafan yang memancing emosi, Rasulullah ﷺ memilih jalan _as-shafhu_ — melapangkan dada seolah-olah kesalahan itu tidak pernah ada. Beliau tidak mengungkit-ungkit masa lalu, tidak menyindir, apalagi mendendam.

*Mengapa Orang Zuhud Tidak Berteriak di Pasar?*

Ada satu potongan kalimat menarik dalam jawaban Bunda Aisyah, yaitu Nabi saw _*"tidak s**a berteriak-teriak di pasar".*_ Apa hubungannya kehidupan rumah tangga dengan pasar?

Para ulama yang menyusun kitab-kitab tentang kesederhanaan jiwa _(zuhud)_ termasuk Imam Ahmad Bin Hambal, memasukkan hadits ini untuk menunjukkan bahwa hati Rasulullah ﷺ sama sekali bersih dari ambisi duniawi.

Pasar adalah simbol tempat manusia paling rentan untuk berdebat, bersitegang, dan meninggikan suara. Hanya soal salah paham dalam tawar-menawar harga, perebutan tempat jualan, persaingan harga, ditambah beragamnya tingkat berpikir manusia, bisa menjadi pemicu ke arah sana.

Di tengah ekosistem yang penuh gesekan kepentingan materi tersebut, ketenangan Rasulullah ﷺ membuktikan bahwa beliau telah zuhud terhadap dunia. Karena beliau tidak mengejar ambisi duniawi, beliau tidak ikut-ikutan larut dalam hiruk-pikuk perebutan materi, tidak emosional, dan tidak berdebat kusir. Jiwa yang tenang dan zuhud inilah yang kemudian beliau bawa masuk ke dalam rumah, melahirkan suasana domestik yang teduh, aman, dan penuh kasih sayang.

*Saatnya Memperbaiki Akhlak Domestik*

Melalui hadits ini, kita diajak untuk _*"memburu faedah"*_ spiritual yang sangat berharga. Kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa sering dia hadir di majelis ilmu, didalam halaqoh, atau seberapa tinggi jabatannya serta pengaruhnya di mata publik.

Kesalehan yang sejati diuji dari seberapa lembut tutur katanya kepada istrinya, seberapa sabar sikapnya menghadapi anak-anaknya dengan segala model karakternya, dan seberapa cepat dia melapangkan dada untuk memaafkan kekhilafan di dalam rumah. Karena sesungguhnya, tidak ada rumah tangga yang betul-betul sempurna dan bebas dari kekurangan. Pasti Allah akan selalu menguji hamba-Nya dengan berbagai macam ujian, termasuk ujian keluarga. Baik suami, istri, serta anak-anak, semuanya pasti punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Seorang kepala keluarga atau suami harus menyadari hal itu. Ia harus bisa mengendalikan diri serta memahami kelebihan dan kekurangan semua anggota keluarganya.

Hidup ini memang tempatnya ujian, termasuk di dalam rumah tangga. Tidak mungkin ada kehidupan rumah tangga yang _flat_ saja, lurus saja, atau datar saja. Pasti ada bagian atau fragmentasi kehidupan kita yang tidak datar-datar saja.

Di sanalah pentingnya bagi seorang pria untuk memiliki ketenangan jiwa, persis seperti ketenangan yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Mari kembali memeriksa diri kita masing-masing. Ketika melangkah p**ang dan membuka pintu rumah nanti, mari tanggalkan ego, amarah, dan urusan duniawi kita di luar.

Mari tiru kelembutan Rasulullah ﷺ dalam menakhodai bahtera kehidupan rumah rumahtangga dalam melintasi ombak ujian domestik, agar rumah kita tidak hanya menjadi tempat berteduh dari hujan dan panas, melainkan bisa menjadi replika surga yang penuh dengan kedamaian dan bisa mengundang ridha-Nya.
----------------------🍒
*Oleh : Khoirul Anam*

(Dosen Tafsir di STIQ Ash-Shiddiq Medan, Pengisi Kajian Al-Qur'an Dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre & H. Suhartono Al-Qur'an Learning Centre)

Address

Al Burayqah

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when NGAJI Daring posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to NGAJI Daring:

Share